Impor Jagung Bisa Bantu Stabilkan Harga Pakan Ternak?

Pusat Riset Kebijakan Indonesia (CIPS) merekomendasikan agar pemerintah melonggarkan kebijakan impor jagung agar harga pakan dalam negeri tetap stabil. Pasalnya, harga jagung pakan yang sedang naik, membebani petani kecil.

Peneliti CIPS Aditya Alta dalam keterangan resminya, Selasa (21/9): “Pemerintah harus menilai berbagai hal dalam tata niaga jagung, seperti membuka impor jagung pakan di Indonesia.”

Ia melanjutkan, hal itu bisa dilakukan. disahkan Mengubah peraturan impor jagung dalam Keputusan Menteri Perdagangan No. 21 Tahun 2018 untuk melonggarkan impor jagung. Peraturan menetapkan bahwa hanya Brog yang berhak mengimpor jagung untuk pakan.

Ia berpendapat bahwa situasi saat ini sangat mendesak, karena persaingan antara petani kecil dan pengolah besar untuk jagung, harga jagung pakan meningkat. Padahal, dengan kenaikan harga jagung, petani harus membayar dua kali lipat dari harga beli normal.

Oleh karena itu, dimungkinkan untuk meningkatkan stok dengan mengimpor jagung dan mengurangi harga jagung pakan domestik. Di sisi lain, ia mencontohkan jika harga jagung pakan tetap tinggi, dampaknya akan mempengaruhi harga ayam dan telur yang dikonsumsi masyarakat dan pelaku ekonomi lainnya.

Aditya meyakini tidak hanya impor yang akan dilonggarkan, namun pemerintah harus mengambil langkah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di sektor tersebut. Misalnya, penyediaan infrastruktur dan dukungan transportasi selama distribusi pakan dan bahan baku membuat biaya produksi lebih efisien dan lebih rendah.

“Pemerintah harus berinvestasi dalam peningkatan lalu lintas jalan, dengan fokus menghubungkan pelabuhan dengan daerah pertanian terdekat. Ini dapat secara langsung menguntungkan proses produksi, sehingga mengurangi biaya transportasi,” katanya.

Kebijakan lain, menurut dia, tidak boleh hanya mengandalkan kebijakan harga acuan untuk menstabilkan pasar, karena selama ini terbukti sulit diterapkan. Agar harga jagung pakan bagi petani kecil tetap stabil tetapi tidak terlalu rendah bagi petani jagung, pemerintah harus memberikan dukungan finansial seperti subsidi.

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah menginstruksikan agar harga jagung pakan hanya Rp 4.500 per kilogram (kg), namun nyatanya harga jagung masih sangat tinggi, berkisar antara Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per kilogram.

Meski harga tinggi, Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi memastikan kenaikan harga Jagung bukan karena kekurangan tempat penyimpanan.

Padahal, data Kementerian Pertanian menunjukkan saat ini ada 2,3 juta ton stok jagung yang tersebar di berbagai lokasi. “Kami memiliki stok penyangga yang cukup, bahkan lebih banyak tahun ini,” kata Harvick.

Diduga penyebab tingginya harga Jagung adalah perbedaan antara HAP Kementerian Perdagangan dengan harga pasar. Sebab, harga referensi pembeliannya Rp 4.500 per kg, sedangkan harga pasar bisa mencapai Rp 6.000 per kg.

Namun, Muhammad Lutfi, Menteri Perdagangan, berkata lain. Menurut dia, kenaikan harga Jagung itu karena kekurangan stok.

“Masalahnya harga jagung. Kalau sekarang kita punya 2,3 juta ton jagung, mungkin harganya tidak meroket. Jadi kalau ada stok, kita tidak bicara beberapa juta, kita bicara 7.000, bukan untuk satu bulan di Blitar,” kata Luthfi.