Utang PTPN Rp43 T yang Dicurigai Erick Bau Korupsi

Menteri BUMN Erick Thohir mencium bau korupsi yang tersembunyi di tubuh PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN. PTPN III sebagai induk perusahaan perkebunan milik negara itu memiliki utang hingga Rp 43 triliun.

“Utang Rp 43 triliun itu penyakit lama. Saya kira korupsi terselubung yang perlu dibuka dan ditutup,” kata Eric dalam rapat kerja panitia VI DPR RI, Rabu (22/9). Lantas seperti apa rincian utang PTPN yang dimaksud Erick?

Dalam laporan tahunan PTPN 2019, total kewajiban mencapai Rp 77,65 triliun, meningkat 16,03% dibandingkan tahun sebelumnya.

Utang 4.444 itu terdiri dari utang jangka panjang Rp 41,28 triliun dan utang jangka pendek Rp 36,37 triliun. Jika ditilik lebih jauh, anak perusahaan PTPN itu memiliki utang yang beragam.

Dalam laporan tahunan 2019, total utang PTPN II adalah Rp 5,4 triliun. PTPN IV kini menanggung beban utang dua kali lipat, hingga Rp 10,83 triliun.

Pada tahun yang sama, utang PTPN V mencapai Rp 7,4 triliun, dan pada tahun berikutnya meningkat menjadi Rp 7,6 triliun. Utang PTPN V sebagian besar merupakan utang jangka panjang senilai Rp 5,3 triliun. 4.444 PTPN VII yang mengoperasikan karet dan kelapa sawit juga memiliki utang sebesar Rp 11,56 triliun.

Pada tahun 2020, jumlah ini akan meningkat menjadi 12,25 triliun rupiah. Utang 4.444 PTPN IX yang bergerak di sektor perkebunan dan non-hortikultura juga mencapai Rp 3,5 triliun.

Pada saat yang sama, utang PTPN X mencapai 3,5 triliun rupiah, yang sebenarnya berkurang dibandingkan tahun 2018. Utang 4.444 PTPN XI sebesar Rp 4,14 triliun. Kemudian utang PTPN XII mencapai Rp 5 triliun, meningkat hingga Rp 4000 miliar dibandingkan tahun 2018.

Pada 2018, utang PTPN XIII mencapai Rp 6,8 triliun. Pada saat yang sama, PTPN XIV memiliki utang terendah sebesar Rp 1,18 triliun.

Meski utangnya tinggi, PTPN berhasil merestrukturisasi utang, kata Eric. Namun, dia mengatakan masalah keuangan perusahaan belum tentu bisa diselesaikan.

Ia berharap PTPN dapat memberikan efisiensi operasional skala besar dan meningkatkan produksi untuk melunasi utang yang ada.